Jumat, 28 Desember 2012

gagal jantung kiri

BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
Masalah kesehatan dengan gangguan system kardiovaskuler termasuk didalammya Congestive heart Failure (CHF)  masih menduduki peringkat yang tinggi, menurut data WHO dilaporkan bahwa sekitar 3000 penduduk Amerika menderita CHF. American Heart Association (AHA) tahun 2004 melaporkan 5,2 juta penduduk Amerika menderita gagal jantung, asuransi kesehatan Medicare USA paling banyak mengeluarkan biaya untuk diagnosis dan pengobatan gagal jantung dan diperkirakan lebih dari 15 juta kasus baru gagal jantung setiap tahunnya di seluruh dunia.
Walaupun angka yang pasti belum ada untuk seluruh Indonesia, tetapi dengan bertambah majunya fasilitas kesehatan dan pengobatan dapat diperkirakan jumlah penderita gagal jantung akan bertambah setiap tahunnya.
Saat ini CHF merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan yang akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, CHF merupakan penyakit yang paling sering memerlukan pengobatan ulang di rumah sakit, meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal. Dari hasil pencatatan dan pelaporan rumah sakit (SIRS, Sistem Informasi Rumah Sakit) menunjukkan Case Fatality Rate (CFR) tertinggi terjadi pada gagal jantung yaitu sebesar 13,42%.
Menurut ahli jantung Lukman Hakim Makmun dari Di­visi Kardiologi Fakultas Kedokteran Uni­ver­sitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), di Indonesia data pre­va­lensi gagal jantung secara nasional me­mang belum ada. Namun, sebagai gam­ba­ran, di ruang rawat jalan dan inap Rumah Sa­kit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada 2006 lalu didapati 3,23% kasus gagal jantung dari total 11.711 pasien.Sedangkan pada tahun 2005 di Jawa Tengah terdapat 520 penderita CHF yang pada umumnya adalah lansia.Sebagian besar lansia yang didiagnosis CHF ini tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun.
Selain itu di RS. Roemani Semarang, kasus penderita jantung mencapai angka 79 penderita dengan kematian 15 orang pada tahun 2006. Jumlah tersebut menunjukkan kematian pada penderita gagal jantung mencapai 18,9% dari penderita yang dirawat. Kemudian pada awal hingga pertengahan tahun 2007, penderita gagal jantung berjumlah 28 orang, penderita meninggal berjumlah 7 orang, dengan kata lain mencapai angka kematian sebesar 25% pada pertengahan tahun, sehingga menunjukkan angka yang lebih besar jika dibandingkan dengan angka kematian pada tahun 2006.
Berdasarkan data rekam medis RSUP. Dr.Wahidin Sudirohusodo, jumlah pasien baru rawat inap CHF mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir , yaitu sebanyak 238 pasien pada tahun 2008, 248 pasien pada tahun 2009 dan sebanyak 295 pasien  pada tahun 2010. Sedangkan di RS. Stella Maris pasien baru rawat inap CHF juga cukup banyak selama tahun 2010 yaitu sebanyak 114 pasien.
Penyebab CHF secara pasti belum diketahui, meskipun demikian secara umum dikenal berbagai faktor yang berperan penting terhadap timbulnya Gagal Jantung.Kajian epidemiologi menunjukkan bahwa ada berbagai kondisi yang mendahului dan menyertai gagal jantung.Berdasarkan penelitian epidemiologis prospektif, misalnya penelitian Framingham memberikan gambaran yang jelas tentang gagal jantung. Pada studinya disebutkan bahwa kejadian gagal jantung per tahun pada orang berusia lebih dari 45 tahun adalah 7,2 kasus setiap 1000 orang laki-laki dan 4,7 kasus setiap 1000 orang perempuan, dan ditemukan mortalitas pada gagal jantung selama lima tahun sebesar 62% pada laki-laki dan 42% pada perempuan.  (Sani, 2007 dalam Ihdaniyati , 2008).  Faktor risiko jantung koroner seperti diabetes dan merokok juga merupakan faktor yang dapat berpengaruh pada perkembangan dari gagal jantung. Selain itu faktor  kolesterol total dengan kolesterol HDL juga dikatakan sebagai faktor risiko independen perkembangan gagal jantung.
Pada Study CARDIA yang dimulai pada tahun 1985-1986, ditemukan 19% kasus dengan tekanan darah yang tidak terkontrol dan menderita gagal  jantung. Selain itu ditemukan beberapa variabel yang berhubungan dengan gagal jantung yaitu tekanan diastole yang lebih tinggi, tekanan darah sistolik yang lebih tinggi, indeks masa tubuh yang lebih tinggi, dan adanya diabetes.
Adapun penelitian lain mengenai CHF adalah NHANES I Epidemiologic Follow-up Study, yaitu penelitian kohort prospektif yang dilakukan di Amerika selama kurang lebih 19 tahun, dimana pada 1.382 kasus CHF, ditemukan insiden CHF adalah positif dan signifikan terkait dengan seks laki-laki, merokok,kelebihan berat badan, hipertensi , diabetes, dan penyakit jantung koroner.
Seperti halnya penyakit kardiovaskuler yang lain, CHF tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat yang bayak dilakukan seiring berubahnya pola hidup,  seperti konsumsi lemak tinggi, kurang aktivitas, merokok, dan konsumsi alkohol. Hasil survei di Amerika menemukan bahwa hampir 40% kebutuhan kalori mereka berasal dari lemak. Kondisi ini sangat beresiko terhadap kejadian penyakit jantung. Terutama bila konsumsi lemak ini tidak diiringi dengan konsumsi serat dari buah-buahan dan sayuran yang cukup. Selain itu, beberapa studi menemukan bahwa alkohol dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan juga dapat meningkatkan molekul tertentu yang dapat meningkatkan penyakit jantung. Alkohol dapat berefek secara langsung pada jantung, menimbulkan gagal jantung akut maupun gagal jantung aritmia. Alkohol ditemukan menyebabkan gagal jantung pada 2-3% dari kasus. (Santi Caroline. 2010)




1.2       Tujuan dan Manfaat
1.2.1        Tujuan
a)       Tujuan dari pembuatan ini adalah untuk mengetahui tentang gagal jantung kiri (definisi, patofisiologi, etiologi, gejala klinik, dan pengobatannnya)
b)      Untuk memenuhi tugas belajar mandiri
1.2.2    Manfaat
a)      Mengetahui definisi, patofisiologi, etiologi, gejala klinik, dan pengobatan gagal jantung kiri
b)      Menambah ilmu pebgetahuan tentang gagal jantung secara umum










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Definisi
Gagal jantung adalah keadaan patofisiologis ketika jantung sebagai pomppa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.Ciri penting dari definisi ini adalah gagal didefinisikan relatif terhadap kebutuhan metabolic tubuh, dan penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan.Istilah gagal miokardium ditujukan spesifik pada kelainan fungsi miokardium.Gagal miokardium umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensorik sirkulasi dapat menunda atau bahkan mencegah berkembang menjadi kegagalan jantung sebagai suatu pompa. (Sylvia & Lorraine. 2006)
Istilah gagal sirkulasi lebih bersifat umum dibandingkan dengan gagal jantung.Gagal sirkulasi menunjukan ketidakmampuan system kardiovaskular untuk melakukan perfusi jaringan dengan memadai.Definisi ini mencakup segala kelainan sirkulasi yang mengakibatkan tidak memadainya perfusi jaringan, termasuk perubahan volume darah, tonus vascular, dan jantung.Gagal jantung. (Sylvia & Lorraine. 2006)
Gagal jantung adalah keadaan patifisiologik di mana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.Ciri-ciri yang penting dari definisi ini adalah pertama, definisi gagal adalah relatif terhadap kebutuhan metabolisme tubuh, dan kedua, penekanan arti gagal ditujukan pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan. Istilah gagal  miokardium  ditujukan spesifik pada fungsi miokardium; gagal miokardium  umumnya mengakibatkan gagal jantung, tetapi mekanisme kompensatorik sirkulasi dapat menunda atau bahkan mencegah perkembangan menjadi gagal jantung dalam fungsi pompanya.
2.2         Etiologi
Penyebab reversible dari gagal jantung antara lain: aritmia (misalnya: atrial fibrillation), emboli paru-paru (pulmonary embolism), hipertensi maligna atau accelerated, penyakit tiroid (hipotiroidisme atau hipertiroidisme), valvular heart disease, unstable angina, high output failure, gagal ginjal, permasalahan yang ditimbulkan oleh pengobatan (medication-induced problems), intake (asupan) garam yang tinggi, dan anemia berat. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Menurut Cowie MR, Dar O (2008), penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan dalam enam kategori utama: 
a.       Kegagalan yang berhubungan dengan abnormalitas miokard, dapat disebabkan oleh hilangnya miosit (infark miokard), kontraksi yang tidak terkoordinasi (left bundle branch block), berkurangnya kontraktilitas (kardiomiopati). 
b.      Kegagalan yang berhubungan dengan overload (hipertensi). 
c.       Kegagalan yang berhubungan dengan abnormalitas katup. 
d.      Kegagalan yang disebabkan abnormalitas ritme jantung (takikardi). 
e.       Kegagalan yang disebabkan abnormalitas perikard atau efusi perikard (tamponade). 
f.       Kelainan kongenital jantung. 
Faktor Predisposisi dan Faktor Pencetus :
a.       Faktor Predisposisi 
Yang merupakan faktor predisposisi gagal jantung antara lain: hipertensi, penyakit arteri koroner, kardiomiopati, penyakit pembuluh darah, penyakit jantung kongenital, stenosis mitral, dan penyakit perikardial. 


b.      Faktor Pencetus 
Yang merupakan faktor pencetus gagal jantung antara lain: meningkatnya asupan (intake) garam, ketidakpatuhan menjalani pengobatan anti gagal jantung, infak miokard akut, hipertensi, aritmia akut, infeksi, demam, emboli paru, anemia, tirotoksikosis, kehamilan, dan endokarditis infektif. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Seperti yang telah dibahas, gagal jantung sisi kiri paling sering disebabkan oleh penyakit jantung sistemik, hipertensi, penyakit katup aorta dan mitral, dan penyakit miokardium noniskemik. (Robbins & Contran. 2009)
2.3         Patofisiologi
Kelainan intrinsik pada kontraktilitas miokardium yang khas pada gagal jantung akibat penyakit sistemik, mengganggu kemampuan pengosongan ventrikel yang efektif. Kontraktilitas ventrikel kiri yang menurun mengurangi volume sekuncup, dan meningkatkan volume residu ventrikel. Dengan meningkatnya EDV (volume akhir diastolik) ventrikel, terjadi peningkatan tekanan akhir diastolik ventrikel kiri (LVEDP). Derajat peningkatan tekanan bergantung pada kelenturan ventrikel. Dengan meningkatnya LVEDP, terjadi pula peningkatan tekanan atrium kiri (LAP) karena atrium dan ventrikel berhubungan langsung selama diastol. Peningkatan LAP diteruskan kebelakang ke dalam pembuluh darah paru-paru, meningkatkan tekanan kapiler dan vena paru-paru. Apabila tekanan hidrostatik anaman kapiler paru-paru melebihi tekanan onkotik pembuluh darah, akan terjadi transudasi cairan melebihi kecepatan drainase limfatik, akan terjadi edema intertisial. Peningkatan tekanan lebih lanjut dapat meningkatkan cairan merembes ke dalam alveoli dan terjadilah edema paru. (Sylvia & Lorraine. 2006)
Tekanan arteri paru-paru dapat meningkatkan akibat peningkatan kronis tekanan vena paru. Hipertensi pulmonalis meningkatkan tahapan terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serangkaian kejadian seperti yang terjadi pada gagal jantung kiri, juga terjadi pada jantung kanan yang akhirnya akan menyebabkan edema dan ongestif sistemik. (Price & Wilson. 2006)
 









(BMJ.2010)
Berbagai faktor etiologi dapat berperan menimbulkan gagal jantung yang kemudian merangsang timbulnya mekanisme kompensasi dan jika mekanisme kompensasi ini berlebihan, maka dapat menimbulkan gejala-gejala gagal jantung. Mekanisme kompensasi jantung tersebut berupa: (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
1.    Mekanisme Frank-Starling 
Mekanisme Frank-Starling berarti makin besar otot jantung diregangkan selama pengisian, makin besar kekuatan kontraksi dan makin besar pula jumlah darah yang dipompa ke dalam aorta atau arteri pulmonalis. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Kontraksi ventrikel yang menurun akan mengakibatkan pengosongan ruang yang tidak sempurna sehingga volume darah yang menumpuk dlm ventrikel saat diastol (volume akhir diastolik) lebih besar dari normal. Berdasarkan hukum Frank-Starling, peningkatan volume ini akan meningkatkan pula daya kontraksi ventrikel sehingga dapat menghasilkan curah jantung yang lebih besar. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
2.    Hipertrofi Ventrikel 
Peningkatan volume akhir diastolik juga akan meningkatkan tekanan di dinding ventrikel yang jika terjadi terus-menerus, maka akan merangsang pertumbuhan hipertrofi ventrikel. Terjadinya hipertrofi ventrikel berfungsi untuk mengurangi tekanan dinding dan meningkatkan massa serabut otot sehingga memelihara kekuatan kontraksi ventrikel. Dinding ventrikel yang mengalami hipertrofi akan meningkat kekakuannya (elastisitas berkurang) sehingga mekanisme kompensasi ini selalu diikuti dengan peningkatan tekanan diastolik ventrikel yang selanjutnya juga menyebabkan peningkatan tekanan atrium kiri. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
 











3.    Aktivasi Neurohormonal 
Perangsangan neurohormonal mencakup sistem saraf simpatik, sistem renin-angiotensin, peningkatan produksi hormon antidiuretik dan peptida natriuretik.  (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Penurunan curah jantung dapat merangsang baroreseptor di sinus carotis dan arkus aorta sehingga terjadi perangsangan simpatis dan penghambatan parasimpatis yang mengakibatkan peningkatan denyut jantung, kontraktilitas ventrikel, dan vasokonstriksi vena dan arteri sistemik sehingga terjadilah peningkatan curah jantung, peningkatan aliran balik vena ke jantung dan peningkatan tahanan perifer. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Penurunan curah jantung menyebabkan penurunan perfusi arteri renalis sehingga merangsang reseptor sel juxtaglomerulus yang kemudian menyintesis renin dan terjadilah hidrolisis angiotensinogen menjadi angiotensin I, angiotensin I dikonversi menjadi angiotensin II oleh ACE yang kemudian menginduksi vasokonstriksi dan sekresi aldosteron sehingga terjadi peningkatan tahanan perifer, retensi natrium dan air yang mengakibatkan peningkatan alir balik vena ke jantung hingga terjadilah peningkatan curah jantung melalui mekanisme Frank-Starling. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Gagal jantung paling sering merupakan manifestasi dari kelainan fungsi kontraktilitas ventrikel (disfungsi sistolik) atau gangguan relaksasi ventrikel (disfungsi diastolik).Pada disfungsi sistolik, kontraktilitas miokard mengalami gangguan sehingga curah jantung menurun dan menyebabkan kelemahan, fatigue, menurunnya kemampuan aktivitas fisik, dan gejala hipoperfusi lainnya. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Pada disfungsi diastolik, terjadi gangguan relaksasi miokard akibat peningkatan kekakuan dinding ventrikel dan penurunan compliance sehingga pengisian ventrikel saat fase diastol terganggu.Gagal jantung diastolik didefinisikan sebagai gagal jantung dengan fraksi ejeksi lebih dari 50%.Disfungsi sistolik dan diastolik seringkali dijumpai bersamaan dan timbulnya gagal jantung sistolik bisa mempengaruhi fungsi diastolik.Diagnosis gagal jantung sistolik atau diastolik tidak dapat ditentukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik saja.Diagnosis dibuat dengan pemeriksaan Doppler-ekokardiografi aliran darah mitral dan aliran vena pulmonalis.Gagal jantung dapat memengaruhi jantung kiri, jantung kanan, atau keduanya (biventrikel), namun dalam praktik jantung kiri yang sedang terkena.Manifestasi tersering dari gagal jantung kiri adalah dispnea, atau perasaan kehabisan napas. Hal ini terutama disebabkan oleh penurunan compliance paru akibat edema dan kongesti paru dan oleh peningkatan aktivitas reseptor regang otonom di dalam paru. Dispnea paling jelas sewaktu aktivitas fisik (dyspneu d’effort).Dispnea juga jelas saat pasien berbaring (ortopnea) karena meningkatnya jumlah darah vena yang kembali ke toraks dari ekstremitas bawah dan karena pada posisi ini diafragma terangkat.Dispnea nokturnal paroksismal adalah bentuk dispnea yang dramatik; pada keadaan tersebut pasien terbangun dengan sesak napas hebat mendadak disertai batuk, sensasi tercekik, dan mengi. Manifestasi lain gagal jantung kiri adalah kelelahan otot, pembesaran jantung, takikardia, bunyi jantung ketiga (S3) gallop, ronki basah halus di basal paru, karena aliran udara yang melewati alveolus yang edematosa. Terjadi krepitasi paru karena edema alveolar dan edema dinding bronkus dapat menyebabkan mengi. Seiring dengan bertambahnya dilatasi ventrikel, otot papilaris bergeser ke lateral sehingga terjadi regurgitasi mitral dan murmur sistolik bernada tinggi. Dilatasi kronis atrium kiri juga dapat terjadi dan menyebabkan fibrilasi atrium yang bermanifestasi sebagai denyut jantung “irregularly irregular”(tidak teratur secara tidak teratur). (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
Manifestasi utama dari gagal jantung kanan adalah bendungan vena sistemik dan edema jaringan lunak.Kongesti vena sistemik secara klinis tampak sebagai distensi vena leher dan pembesaran hati yang kadang-kadang nyeri tekan.Bendungan ini juga menyebabkan peningkatan frekuensi trombosis vena dalam dan embolus paru.Edema menyebabkan penambahan berat dan biasanya lebih jelas di bagian dependen tubuh, seperti kaki dan tungkai bawah.Pada gagal ventrikel yang lebih parah, edema dapat menjadi generalista.Efusi pleura sering terjadi, terutama di sisi kanan, dan mungkin disertai efusi perikardium dan asites.Pada gagal jantung kanan ditemukan dispneu, namun bukan ortopneu atau PND.Pada palpasi mungkin didapatkan gerakan bergelombang yang menandakan hipertrofi ventrikel kanan dan/atau dilatasi, serta pada auskultasi didapatkan bunyi jantung S3 atau S4 ventrikel kanan. (Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003)
2.4                   Gambaran Klinis
2.4.1  Kerangka Konsep
Tiga metode gagal jantung yang dipakai dalam menggambarkan manifestasi klinis adalah perbandingan gagal depan dan gagal belakang, perbandingan gagal sistolik dan diastolic, dan perbandingan gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri. Gagal ke depan (gagal curah-tinggi) dicirikan dengan curah jantung melebihi nilai normal menurut usia, jenis kelamin, dan ukuran tetapincurah jantung ini masih tidak mencukupi kebutuhan tubuh akan darah teroksigenasi. Gagal jantung belakang (gagal curah-rendah) dicirikan dengan curah jantung yang sangat menurun di bawah nilai normal menurut usia, jenis kelamin, dan ukuran. Tanda khas gagal ke depan adalah mudah lelah, lemah, dan gangguan mental akibat curah jantung yang sangat menurun, sedangkan tanda khas gagal jantung ke belakang adalah kongesti paru dan edema yang menunjukkan aliran balik darah akibat gagal vetrikel. (Sylvia & Lorraine. 2006)
Istilah gagal jantung kanan dan gagal jantung kiri menyiratkan fungsi pemompaan ventrikel yang terpisah satu dengan yang lainnya.Meskipun pembedaan ini bermanfaat dalang penggolongan gejala, tetapi harus diingat bahwa terdapat saling ketergantungan antar ventrikel tersebut. Secara anatomis, saling ketergantungan antar ventrikel dapat terlihat dari dingding pemisah, yaitu septum intraventrikularis, dan serabut-serabut otot yang membentuk dinding vetrike
2.4.2  Efek Morfologi Gagal Jantung kiri
Efek morfologik dan klinis dari gagal jantung kongestif sisi kiri terutama terjadi karena pembendungan progresif darah di dalam sirkulasi paru dan akibat berkurangnya tekanan dan aliran darah perifer (Robbins & Contran. 2009)
Pada gagal jantung kiri padat di temukan beberapa morfologi diantaranya :
1.      Jantung
Temuan di jantung bervariasi bergantung pada kuasa proses penyakit, mungkin dijumpai kelainan seperti infrak miokardium atau deformitas katup. Ruang jantung ini biasanya mengalami hipertrofi dan sering kali dilatasi, kadang kadang cukup massif, kecuali pada obstruksi di katup mitral atau proses lain yang membatasi ukuran ventrikel kiri. Biasanya terdapat perubahan nonspesifik berupa hipertrofi dan fibrosis miokardium.Pembesaran sekunder atrium kiri yang menyebabkan fibrasi atrium (yi.Kontraksi atrium yang tidak-terkoordinasi dan kacau) mungkin menyebabkan berkurangnya isi sekuncup atau menyebabkan stasis darah dan mungkin pembentukan thrombus (terutama di apendiks atrium).Fibrilasi atrium kiri menimbulkan resiko terjadinya stroke embolik.Efek gagal jantung sisi kiri di luar jantung paling jelas ditemukan di paru meskipun ginjal dan otak juga mungkin terkena. (Robbins & Contran. 2009)
2.      Paru
Tekanan di vena-vena paru meningkat dan akhirnya disalurkan balik (retrograd) ke kapiler dan arteri.Hasilnya adalah kongesti dan edema paru, dengan paru yang berat basah.Bahwa perubahan secara berurutan mencakup hal-hal berikut. Yaitu (1) transudate perivascular dan interstisium, terutama di septum antar lobules, yang merupakan penyebab terbentuknya garis kerley B pada pemeriksaan sinar-X, (2) pelebaran edematosa septum alveolus yang progresif, dan (3) akumulasi cairan edema di ruang alveolus. Selain itu, protein-protein yang mengandung besi di cairan edem dan hemoglobin dari eritrosit, yang bocor dari kapiler yang terbendung hemosiderin. Adanya makrofag yang mengandung hemosiderin di alveolus(disebut siderofag atau sel gagal jantung) menandakan bahwa pernah terjadi serangan edema paru. (Robbins & Contran. 2009)
Perubahan-perubahan anatomic ini menyababkan gejala klinis yang mencolok.Dispnea (sesak nafas), biasanya merupakan keluhan paling dini dan utama dari pasien dengan gagal jantung sisi kiri, adalah rasa sesak nafas (seperti habis berolahraga) yang berlebihan. Jika keadaan memburuk, timbul ortopnea, yaitu dyspnea ketika pasien berbaring dan mereda apabila ia duduk atau berdiri. Oleh karena itu, pasien ortopnea harus tidur dalam posisi duduk tegak. Dispnea nokturmal paroksismal merupakan kelanjutan ortopenea yang berupa serangan dispnea berat hamper seperti tercekik, biasanya terjadi pada malam hari. Batuk adalah keluhan gagal jantung kiri yang sering dijumpai (Robbins & Contran. 2009)


 











(Sylvia & Lorraine. 2006)
3.      Ginjal
Berkurangnya curah jantung menyebabkan penurunan perfusi ginjal, yang mengaktifkan sistem renin-angiotensin-aldosteron, yang menginduksi retensi garam dan air serta menyebabkan ekspansi cairan intertisium dan volume darah.Reaksi kompensasi ini dapat ikut berperan menyebabkan edema paru pada gagal jantung sisi kiri dan akan di atasi oleh pelepasan ANP melalui dilatasi atrium, yang bekerja dengan mengurangi volume darah yang berlebihan. Jika defisit perfusi ginjal cukup parah, terjadi gangguan ekskresi produk nitrogen yang menyebabkan azotemia, yang dalam hal tersebut azotemia prarenal. (Robbins & Contran. 2009)


4.      Otak
Pada gagal jantung kongestif tahap lanjut, hipoksia serebelum dapat menyebabkan ensefalopati hipoksik, disertai dengan iritabilitas, berkurangnya konsentrasi, dan kegelisahan yang bahkan dapat berlanjut menjadi stupor dan koma. (Robbins & Contran. 2009)
2.5         Diagnosis
Selain dari gejala-gejala yang timbul dapat juga kita tegakkan dengan pemeriksaat fisik yang antara lain kita bisa dapatkan.
Penegakan diagnosis gagal jantung dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, EKG, foto thorax, ekokardigrafi-doppler dan kateterisasi.
Klasifikasi fungsional dari The New York Heart Association (NYHA), umum dipakai untuk menyatakan hubungan antara awitan gejala dan derajat latihan fisik: 
Klas I       : Tidak timbul gejala pada aktivitas sehari-hari, gejala akan
timbulpada aktivitas yang lebih berat dari aktivitas sehari
hari. 
Klas II      : Gejala timbul pada aktivitas sehari-hari. 
Klas III    : Gejala timbul pada aktivitas lebih ringan dari aktivitas sehari
hari. 
Klas IV    : Gejala timbul pada saat istirahat. 
Kriteria Framingham dapat pula dipakai untuk menegakkan diagnosis gagal jantung kongestif. 

Kriteria mayor: 
1.      Paroxismal Nocturnal Dispneu 
2.      distensi vena leher 
3.      ronkhi paru 
4.      kardiomegali 
5.      edema paru akut 
6.      gallop S3 
7.      peninggian tekanan vena jugularis 
8.      refluks hepatojugular 
Kriteria minor: 
1.      edema ekstremitas 
2.      batuk malam hari 
3.      dispneu de effort 
4.      hepatomegali 
5.      efusi pleura 
6.      takikardi 
7.      penurunan kapasitas vital sepertiga dari normal 
Diagnosis ditegakkan dari 2 kriteria mayor atau 1 kriteria mayor dan 1 kriteria minor harus ada pada saat yang bersamaan. Penyakit jantung koroner merupakan etiologi gagal jantung akut pada 60-70% pasien, terutama pada usia lanjut. Contoh klasik gagal jantung akut adalah robekan daun katup secara tiba-tiba akibat endokarditis, trauma atau infark miocard luas.Curah jantung yang menurun tiba-tiba menyebabkan penurunan tekanan darah disertai edema perifer. (Mansjoer.1999))
2.6         Pemeriksaan Penunjang
2.6.1  Radiografi toraks
Foto thoraks harus diperiksakan secepat mungkin saat masuk pada semua pasien yang diduga gagal jantung, untuk menilai derajat kongesti paru, dan untuk mengetahui adanya kelainan paru dan jantung yang lain seperti efusi pleura, infiltrat atau kardiomegali.
Pada pasien gagal jantung, foto toraks seringkali menunjukkan kardiomegali (rasio kardiotorasik/ CTR >50%), terutama bila gagal jantung sudah kronis). Ukuran jantung yang normal tidak menyingkirkan diagnosis dan bisa didapatkan pada gagal jantung akut.
2.6.2    Elektrokardiografi (EKG)
Pemeriksaan EKG dapat memberikan informasi yang sangat penting, meliputi frekuensi debar jantung, irama jantung, sistem konduksi dan kadang etiologi dari gagal jantung itu sendiri.
Pada  elektrokardiografi  12  lead  didapatkan gambaran  abnormal  pada  hampir  seluruh  penderita dengan  gagal  jantung (90%), meskipun  gambaran  normal dapat  dijumpai  pada  10%  kasus.  Gambaran  yang sering  didapatkan  antara  lain  gelombang  Q, abnormalitas  ST-T,  hipertrofi  ventrikel  kiri, bundle  branch  block, fibrilasi  atrium, gangguan konduksi dan aritmia.












(BMJ.2010)
2.6.3        Ekokardiografi
Ekokardiografi harus dilakukan pada semua pasien dengan dugaan klinis gagal jantung. Ekokardiografi memegang peranan yang sangat penting untuk evaluasi kelainan struktural dan fungsional dari jantung berkaitan dengan gagal jantung. Dimensi ruang jantung, fungsi ventrikel (sistolik dan diastolik), dan abnormalitas dinding jantung dapat dinilai, dan penyakit katup jantung dapat disingkirkan.
Pencitraan echo/ dopler harus diperiksakan untuk evaluasi dan memonitor fungsi sistolik ventrikel kiri dan kanan secara regional dan global, fungsi diastolik, struktur dan fungsi valvular, kelainan perikardium, komplikasi mekanis dari infark akut, adanya disinkroni, juga dapat menilai semi kuantitatif, noon invasive, tekanan pengisian dari ventrikel kanan dan kiri, stroke volume dan tekanan arteri pulmonalis, yang dengan demikian bisa menentukan strategi pengobatan. (Sudoyo A.W., dkk. 2006.)
2.7                   Penatalaksanaan
2.7.1  Terapi Farmako
1.      Diuretik 
Diuretik akan mengurangi kongestif pulmonal dan edema perifer. Obat-obat ini bergunamengurangi gejala volume berlebihan, termasuk ortopnea dan dispnea noktural paroksimal.Diuretik menurunkan volume plasma dan selanjutnya menurunkan preload jantung.Inimengurangi beban kerja jantung dan kebutuhan oksigen.Diuretik juga menurunkanafterload dengan mengurangi volume plasma sehingga menurunkan tekanan darah. Obat-obat yangtermasuk golongan ini adalah diuretik tiazid dan loop diuretik.(JW. McGlynn, TJ. 1995)
Diuretik merupakan cara paling efektif meredakan gejala pada pasien-pasien dengan gagal jantung kongestif sedang sampai berat.Sebagai terapi awal sebaiknya digunakan kombinasidengan ACEI.Pada pasien dengan tanda-tanda retensi cairan hanya sedikit pasien yang dapatditerapi secara optimal tanpa diuretik.Tetapidiuresis berlebihan dapat menimbulkan ketidakseimbangan elektrolit dan aktivasi neurohormonal(JW., McGlynn, TJ. 1995)
Kerja diuretik untuk mengurangi volume cairan ekstrasel dan tekanan pengisian ventrikeltetapi biasanya tidak menyebabkan pengurangan curah jantung yang penting secara klinis,terutama pada pasien gagal jantung lanjut yang mengalami peningkatan tekanan pengisianventrikel kiri, kecuali jika terjadi natriuresis parah dan terus menerus yang menyebabkanturunnya volume intravaskular yang cepat (JW., McGlynn, TJ. 1995)
Diuretik digunakan padarelieve pulmonary dan peripe heral oedemaakibat masuknya natrium dan ekskresi kloridadengan cara menghambat reabsorbsi natrium ditubula renal. Diuretik menghilangkan retensinatrium pada CHF dengan menghambat reabsorbsi natrium atau klorida pada sisi spesifik ditubulus ginjal.Bumetamid, furosemid,dan torsemid bekerja pada tubulus distal ginjal. Diuretik harus dikombinasikan dengan diet rendah garam (kurang dari 3 gr/hari). Pasien tidak beresponterhadap diuretik dosis tinggi karena diet natrium yang tinggi, atau minum obat yang dapatmenghambat efek diuretik antara lain NSAID atau penghambat siklooksigenase-2 ataumenurunya fungsi ginjal atau perfusi (JW., McGlynn, TJ. 1995)
Pasien dengan gagal jantung yang lebih berat sebaiknya diterapi dengan salah satu loopdiuretik, obat-obat ini onsetnya cepat dan durasi aksinya cukup singkat.Pada pasien denganfungsi cadangan ginjal yang masih baik, lebih disukai pemberian dosis tunggal dalam 2 dosisatau lebih. Pada keadaan akut atau jika kondisi absorbs gastrointestinal diragukan, sebaiknyaobat-obat ini diberikan intravena. Loop diuretik menghambat absorbsi klorida asendenloop of henlemenyebabkan natriuresis, kaliuresis, dan alkalosis metabolik. Obat ini aktif terutama padakeadaan insufisiensi ginjal berat, tetapi mungkin perlu dosis yang lebih besar (JW., McGlynn, TJ. 1995)
Manfaat terapi diuretik yaitu dapat mengurangi edema pulmo dan perifer dalam beberapahari bahkan jam.Diuretik merupakan satu-satunya obat yang dapat mengontrol retensi cairan pada gagal jantung. Meskipun diuretik dapat mengendalikan gejala gagal jantung dan retensicairan, namun diuretik saja belum cukup menjaga kondisi pasien dalam kurun waktu yang lama.Resiko dekompensasi klinik dapat diturunkan apabila pemberian diuretic dikombinasikan denganACEI dan Bloker (JW., McGlynn, TJ. 1995)
Mekanisme aksinya dengan menurunkan retensi garamdan air, yang karenanya menurunkanpreload ventrikuler (Katzung, 2004).
2.      Antagonis Aldosteron
Penggunaan spironolakton sebagai antagonis aldosteron menunjukkan penurunan mortalitas pada pasien dengan gagal jantung sedang sampai berat.Aldosteron berhubungan dengan retensiair dan natrium, aktivasi simpatetik, dan penghambatan parasimpatetik.Hal tersebut merupakanefek yang merugikan pada pasien dengan gagal jatung.Spironolakton meniadakan efek tersebutdengan penghambatan langsung aktifitas aldosteron (JW., McGlynn, TJ. 1995)


3.      Obat-obat inotropik 
Obat-obat inotropik positif meningkatkan kontraksi otot jantung dan meningkatkan curah jantung. Meskipun obat-obat ini bekerja melalui mekanisme yang berbeda dalam tiap kasus kerjainotropik adalah akibat peningkatan konsentrasi kalsium sitoplasma yang memacu kontraksi otot jantung (JW., McGlynn, TJ. 1995)
4.      Digitalis
Obat-obat golongan digitalis ini memiliki berbagai mekanisme kerja diantaranya pengaturankonsentrasi kalsium sitosol.Hal ini menyebabkan terjadinya hambatan pada aktivasi pompa proton yang dapat menimbulkan peningkatan konsentrasi natrium intrasel, sehinggamenyebabkan terjadinya transport kalsium kedalam sel melalui mekanisme pertukaran kalsiumnatrium.Kadar kalsium intrasel yang meningkat itu menyebabkan peningkatan kekuatankontraksi sistolik.Digoksin merupakan prototipe glikosida jantung yang berasal dari Digitalis lanata. Mekanismekerja digoksin melalui 2 cara, yaitu efek langsung dan tidak langsung. Efek langsung yaitu meningkatkankekuatan kontraksi otot jantung (efek inotropik positif).Hal ini terjadi berdasarkan penghambatan enzim Na+, K+ -ATPase dan peningkatan arus masuk ion kalsium ke intrasel.Efek tidak langsung yaitu pengaruh digoksin terhadap aktivitas saraf otonom dan sensitivitas jantung terhadap neurotransmiter.Efek elektro fisologi dapat memperlambat konduksi melalui nodus AV, dan pada dosis toksik dapatmenyebabkan aritma atrium dan ventrikel.Indikasi untuk payah jantung kongestif, fibrilasi atrium, takikardia atrium proksimal dan flutter atrium.Mekanisme lainnya yaitu peningkatan kontraktilitas otot jantung.Pemberian glikosidadigitalis meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung menyebabkan penurunan volumedistribusi aksi, jadi meningkatkan efisiensi kontraksi.(JW. McGlynn, TJ. 1995)
Terapi digoxin merupakan indikasi pada pasien dengan disfungsi sistolik ventrikel kiri yanghebat setelah terapi diuretik dan vasodilator.Obat yang termasuk dalam golongan glikosida jantung adalah digoxin dan digitoxin.Glikosida jantung mempengaruhi semua jaringan yangdapat dirangsang, termasuk otot polos dan susunan saraf pusat.Mekanisme efek ini belumdiselidiki secara menyeluruh tetapi mungkin melibatkan hambatan Na+K +- ATPase didalam jaringan ini.(Katzung, 2001).
Hipokalemia dapat menyebabkan aritmia hebat. Penurunan kadar kalium dalam serum seringditemukan pada pasien-pasien yang mendapatkan thiazid atau loop diuretik dan biasanya dapatdicegah dengan diuretik hemat kalium atau suplemen kalium karbonat. Hiperkalsemia danhipomagnesemia juga menjadi predisposisi terhadap toksisitas digitalis.(JW. McGlynn, TJ. 1995)
Tanda dan gejala toksisitas glikosida jantung yaitu anoreksia, mual, muntah, sakit abdomen, penglihatan kabur, mengigau, kelelahan, bingung, pusing, meningkatnya respons ventilasiterhadap hipoksia, aritmia ektopik atrium dan ventrikel, dan gangguan konduksi nodus sinoatrialdan atrioventrikel (JW., McGlynn, TJ. 1995)
5.      Vasodilator
Gangguan fungsi kontraksi jantung pada gagal jantung kongestif, diperberat oleh peningkatan kompensasi padapreload (volume darah yang mengisi ventrikel selama diastole)danafterload (tekanan yang harus diatasi jantung ketika memompa darah ke sistem arteriol).Vasodilatasi berguna untuk mengurangi preload  danafterload yang berlebihan, dilatasi pembuluh darah vena menyebabkan berkurangnyapreload jantung dengan meningkatkankapasitas vena, dilator arterial menurunkan resistensi arteriol sistemik dan menurunkanafterload.Obat-obat yang berfungsi sebagai vasodilator antara lain captopril, isosorbid dinitrat,hidralazin(JW. McGlynn, TJ. 1995)
6.      Inhibitor enzim pengkonversi angiotensin (Inhibitor ACE)
Obat-obat ini menghambat enzim yang berasal dari angiotensin I membentuk vasokonstriktor kuat angiotensin II. Inhibitor ACE mengurangi kadar angiotensin II dalam sirkulasi dan jugamengurangi sekresi aldosteron, sehingga menyebabkan penurunan sekresi natrium dan air.Inhibitor ACE dapat menyebabkan penurunan retensi vaskuler vena dan tekanan darah,menyebabkan peningkatan curah jantung.(JW. McGlynn, TJ. 1995)
Pengobatan ini sangat menurunkan morbiditas dan mortalitas.Penggunaan inhibitor ACEawal diutamakan untuk mengobati pasien gagal ventrikel kiri untuk semua tingkatan, denganatau tanpa gejala dan terapi harus dimulai segera setelah 10 infark miokard.Terapi dengan obatgolongan ini memerlukan monitoring yang teliti karena berpotensi hipotensi simptomatik.Inhibitor ACE ini tidak boleh digunakan pada wanita hamil.Obat-obat yang termasuk dalamgolongan inhibitor enzim pengkonversi angiotensin ini adalah kaptopril, enalapril, lisinopril, danquinapril (JW. McGlynn, TJ. 1995)
2.7.2   Terapi non Farmako
Pada umumnya semua penderita gagal jantung dianjurkan untuk membatasi aktivitas sesuai beratnya keluhan. Terapi nonfarmakologi antara lain: diet rendah garam, mengurangi berat badan, mengurangi lemak, mengurangi stress psikis, menghindari rokok, olahraga teratur.

2.8       Diagnosisi banding gagal jantung
Diagnosis gagal jantung kongestif mungkin dapat ditentukan dengan mengamati beberapa kombinasi manifestasi klinis gagal jantung, bersama dengan karakteristik yangditemui dari satu bentuk etiologi penyakit jantung.Gagal jantung sulit dibedakan dengan penyakit paru. Emboli paru juga ada dalam manifestasi gagal jantung, tetapi hemoptisis,nyeri dada pleuritik, angkatan ventrikel kiri dan karakteristik yang tidak cocok antaraventilasi dan perfusi harus mengarah ke diagnosis ini.Edema pergelangan kaki mungkin disebabkan oleh vena varikosa, edema siklik atau efek gravitasi tetapi pada pasien ini tidak ada hipertensi vena jugularis saat istirahatatau dengan penekanan di atas abdomen.
Edema sekunder terhadap penyakit ginjal biasadapat dikenal dengan tes fungsi ginjal yang sesuai dan urinalisis, serta jarang berkaitandengan peningkatan tekanan vena jugularis.Pembesaran hati dan asites terjadi dalam pasien dengan sirosis hepatitis dan juga dapat dibedakan dari gagal jantung dengantekanan vena jugularis yang normal dan tidak adanya refluks abdominojugularis yang positif. Diagnosis banding untuk gagal jantung dirincikan sebagai berikut :(BMJ. 2010)
1.      Sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS)
2.      Trauma Akut
3.      Altitude sickness
4.      Asma
5.      Syok kardiogenik 
6.      Chronic obstructive pulmonary disease (COPD)
7.      Overdosis Obatan
8.      Infark miokard
9.      Pneumonia
10.  Fibrosis Pulmonal
11.  Respiratory failure
12.  Sepsis
2.9         Komplikasi
            Pada bayi dan anak yang menderita gagal jantung yang lama biasanya mengalami gangguan pertumbuhan. Umumya, berat badan akan mengalami hambatan yang lebih berat dari pada tinggi badan. (emedicine.2010)
Pada gagal jantung kiri dengan gangguan pemompaan pada ventrikel kiri dapat mengakibatkan bendungan paru dan selanjutnya dapat menyebabkan hipertrofi ventrikel kanan akibat dari pada kompensasi jantung dan selanjutnya menimbulkan dispnea.Pada gagal jantung kanan dapat terjadinya hepatomegaly, asites, bendungan pada vena perifer dan gangguan gastrointestinal. Menurut Brunner & Suddarth, potensial komplikasi mencakup syok kardiogenik, episode tromboemboli, efusi pericardium dan tamponade pericardium. (emedicine.2010)
















BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Penderita gagal jantung kiri akan mengalami sesak nafas, peningkatan denyut nadi,dispnu atau takhipnea, kulit dingin dan pucat, distensi vena jugularis, saat diauskultasisuara paru crackles. Mekanisme kompensasi jantung dalam merespon keadaan yangmenyebabkan kegagalan jantung dengan mekanisme Frank-Starling, aktivasineurohomonal, dan dengan hipertrofi otot jantung, untuk mempertahankancardiac output dan dalam memenuhi suplai oksigen.
Penatalaksanaan perlu diberikan sedini mungkinagar tidak terjadi komplikasi yang lebih parah seperti gagal jantung kongestif atau syok kardiogenik.Intervensi dapat diberikan secara farmakologik maupun non farmakologik.
3.2         Saran
Terapi farmakologis yang bisa diberikan adalah β blocker golongan kardioseletif seperti atenolol, diuretik untuk mengurangi timbunan cairan, digitalis efek cepat (digoxin) untuk meningkatkan kontraktilitas, dan jika perlu diberikan golongan Ca antagonis untuk mengurangi impuls saraf.





DAFTAR PUSTAKA

Burndside, JW., McGlynn, TJ. 1995. Diagnosis Fisik. Alih Bahasa : Lumanto,
Henny.Jakarta : EGC.
Brosche Theresa Ann Middleton. 2011. Buku Saku EKG. Alih Bahasa : Leo Rendy.
                   Jakarta. EKG
Davis,M.K., 2010.ABCgagal jantung: gagal jantungkongestifdicommunitytrends
dalam insiden dankelangsungan hidup dalamjangka waktu 10 tahun.BMJ: 297-300. Di akses tanggal 20 Maret 2012
Maret 2012
Katzung BG. Farmakologi Dasar Klinik. Salemba Medika. 2001
Mansjoer Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Media Aesculapius.
FKUI
Price Sylvia A &Wilson Loraine M. 2006.Patofisiologi.Konsep Klinis proses
prosesPenyakit.Jakarta. EGC
Robiin & Contran. 2009. Dasar Patologi Penyakit. Edisi 3. Jakarta. EGC
Santi Caroline. 2010. Gagal Jantung Kongestif di Masyarakat kota Makasar. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin, Makasar. Hal 1. (Tidak
dipublikasikan)
Sitompul, Barita., Sugeng, JI. 2003. Gagal Jantung. Dalam : Buku Ajar Kardiologi.
Editor : Rilanto, LI dkk. Jakarta : FK UI.
Sudoyo A.W., Setiyohadi B., Alwi Idrus, Simadibrata M., Setiati S. 2006. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Edisi keempat Jilid II. FKUI. Jakarta
Tagor, GM.H. 2003. Hipertensi Esesial. Dalam :Buku Ajar Kardiologi. Editor :
Rilanto, LI dkk.Jakarta : FK UI.